Pelaksanaan Walimatul Khitan Serta sejarah dan Hukum berkhitan

Pelaksanaan Walimatul Khitan Serta sejarah dan Hukum berkhitan

WALIMATUL KHITAN – Adalah salah satu Acara dalam islam yang mana seorang merayakan pesta sebagai bentuk Rasa syukur karena seorang anak sudah di khitan/sunat maka dengan adanya acara walimatul khitan atau pesta sunatan ini kita bisa sekaligus mengundang warga sekitar untuk acara makan makan yang mana menunjukan bahwa anak kita telah disunat.

Sejarah Walimatul Khitan dan Hikmahnya

Acara walimatul Khitan di indonesia ini memiliki keunikan tersendiri dalam pelaksanaanya, karena setiap daerah berbeda beda. Namun yang terpenting adalah kesederhanaan dalam membuat acara adalah lebih utama karena semua kembali kepada niat kita masing masing dalam mengadakan acara terlebih keberkahan saat acara juga yang kita utamakan. jangan sampai kita membuat acara besar besaran namun menimbulkan mudhorot baru sehingga menyusahkan banyak pihak semisal sampai menutup jalan sehingga menggangu aktifitas yang mana fasilitas umum seperti jalan di pakai setiap hari oleh pengguna jalan.

Mengadakan acara walimatul khitan tidak wajib atau sunnah namun sekiranya ada Undangan Untuk walimatul khitan maka hukumnya wajib dan di anjurkan untuk memenuhi undangan walimatul khitan tersebut sebagaimana sabda nabi Sahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ,di Takhrij / keluarkan dari imam Bukhori (1)

 إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إلى الوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا.

“Jika salah seorang dari kalian diundang makan, hendaklah ia menyambut Undanganya”

Walimah adalah Pesta Yaitu setiap makanan yang dibuat untuk kesenangan saat ada perkawinan, khitanan, atau acara-acara lainnya, dan sudah masyhur terjadi pada hari Bahagia terlaksananya suatu hajat.
Dan dalam hadits ini perintah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar undangan ke pesta diterima bagi orang-orang yang diundang sebagaimana di qiyaskan dari kisah Sahabat
yang mafhumnya :
Nafi’ memberitahu Abdullah bin umar: bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu mereka berdua, biasa menjawab undangan di pesta pernikahan dan di waktu lain bahkan ketika dia sedang berpuasa. Sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dalam Sahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Jika salah seorang dari kalian diundang makan, hendaklah ia menjawab. ; Dan jika dia berbuka, maka biarkan dia makan, dan jika dia berpuasa, biarkan dia berdoa.” Artinya, biarkan dia berdoa untuk orang yang memiliki hajat Walimah untuk kebaikan.
dan Hikmah yang bisa di ambil adalah Semua ini karena toleransi dalam Islam, ikatan antar masyarakat dan kasih sayang antar mereka. Dimana dia bersegera menyambut undangan , melainkan dia telah menunaikan hak seorang Muslim atas saudaranya tentunya dalam bermasyarakat semangat kasih sayang, persaudaraan, ikatan semakin terjalin .

Apa Itu Khitan ?

Khitan berasal dari akar bahasa Arab يختن- ختن – ختان  ( Khotana – Yakhtanu – Khitaan ) artinya Menyunat

Lebih rinci Secara terminologi pengertian khitan menurut Imam al-Mawardi, ulama fiqh Mazhab Syafi’i, khitan bagi laki-laki adalah memotong “Qulfah“, kulit yang membungkus bagian ujung dzakar, sehingga menjadi terbuka.

dan dari pendapat yang lain Qulfah atau qhurlah adalah bagian kulit yang dipotong saat dikhitan (disebut pula kuluf). Yang dikhitan dari seorang laki-laki adalah bagian kulit yang melingkar dibawah ujung kemaluan. Itulah kulit kemaluan yang diperintahkan untuk dipotong.

khitan adalah salah satu fitrah Manusia yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan anak laki laki maupun yang telah dewasa adalah pemotongan kulit yang menutupi ujung penisnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh Dikeluarkan Oleh Imam Bukhori dalam kitabnya Shaih Bukhori Halaman ke 3356 Dengan Perawi Yang Sahih(2)

اخْتَتَنَ إبْراهِيمُ عليه السَّلامُ وهو ابنُ ثَمانِينَ سَنَةً بالقَدُّومِ

Ibrahim Alayhi Salam (Keselamatan Atasnya) dan beliau disunat ketika beliau berusia delapan puluh tahun dengan sebuah Alat yang di sebut Qodum (kampak)

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa Nabi Ibrahim as , disunat ketika dia berusia delapan puluh tahun, dan dia disunat dengan Kampak, yaitu alat tajam yang digunakan oleh tukang kayu, dan dikatakan bahwa itu adalah sebuah nama.Dan dalam hadits: Ibrahim, saw, menyerah pada perintah Tuhannya, Maha Suci Dia.
Dan di dalamnya: sunat adalah salah satu cara sifat manusia, dan itu dilakukan baik oleh orang yang sudah dewasa maupun anak kecil.

dari rincian hadits di atas maka kita mungkin agak heran dan mungkin kaget karena beliau di khitan menggunakan ALat yang biasa di pakai tukang kayu yaitu kapak, namun jika kita mau mengetahui mbah mbah kita dulunya juga menggunaka alat alat yang memang masih traditional sehingga berbeda dengan kita yang saat ini hidup di era tekhnologi

Hukum Khitan Menurut Madzhab Syafi’i

Sebagaimana kita mengetahui berbagai madzhab mempunyai hukum masing masig dalam khitanan namun dalam Madzhab yang di anut oleh masyarakat indonesia pada umumnya adalah Syafi’iyah namun ada beberapa madzhab berbeda pendapat dalam masalah ini

kita tidak akan menyebutkan Hukum dari ke 4 Madzab Mulai Dari Imam Abu Hanifah (699 M), Imam Malik (711 M), Imam Syafi’i (767 M), Imam Ahmad Bin Hambal (780 M)

Namun Hanya dari Madzhab Syafi’i (767 M) yang mana adalah pegangan dari Mayoritas ummat islam di indonesia

mazhab Syafi’i menetapkan Hukum khitan wajib terhadap syari’at khitan berdasarkan pemahaman terhadap nas al-hadis tersebut, bahwa pemahaman pada sesuatu hal yang dilakukan secara berulang-ulang berakibat menjadi suatu hal yang wajib dikerjakan.(3)

Sumber Literasi :

(1) https://www.dorar.net/hadith/sharh/16636

(2) https://www.dorar.net/hadith/sharh/16430

(3) https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/4821/

santri
Follow me on

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *