Cara Rukun dalam bermasyarakat sesuai syare’at Islam

Cara Rukun dalam bermasyarakat sesuai syare’at Islam

Assalamualaykum warahmah sahabat santri yang semoga diberkahi ALLAH dimanapun bagi kita para penuntut ilmu sampai akhir hayat tentunya mempunyai latar belakang yang berbeda beda , dan tentunya perbedaan ini ada memang sudah sunnatullah yaitu ketentuan ALLAH yang memang sudah baku dari awal mula dunia ini di ciptakan berbeda beda ,

Toleransi Untuk saling Mengenal

maka dari itu dengan perbedaan yang beraneka ragam inilah kita di tuntut untuk saling mengenal sebagaimana Firman ALLAH dalam Surat Al Hujurat ayat 13 : (1)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Terjemahan
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
sehingga dengan perbedaan inilah kita ada bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi saling mengingatkan dengan cara cara yang baik dan sopan sehingga tidak menyakiti saudara muslim kita yang lain jikapun mereka memiliki kesalahan yang terbuka Aibnya di hadapan kita kita juga harus berusaha untuk mengamalkan hadits Nabi yaitu Menutupi Aibnya.
Diriwayatkan oleh Ashabi Rasulillah Abdullah Ibnu Umar R.A, dikeluarkan oleh Imam Abu daud, Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, dan Imam Nasa’i. (2)
 المسلمُ أخو المسلمِ، لا يظلمُه، ولا يسلمُه ؛ من كان في حاجةِ أخيه فإنَّ اللهَ في حاجته، ومن فرَّج عن مسلمٍ كُربةً فرَّج اللهُ عنه بها كُربةً من كُربِ يومِ القيامةِ، ومن ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ
Artinya : Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainya, dia tidak menindasnya atau mengkhianatinya; Barang siapa yang memenuhi hajat saudaranya, maka Allah akan memenuhi Hajatnya, dan barang siapa yang membebaskan seorang muslim dari kesusahan, Allah akan membebaskannya kesusahan dari kesusahannya pada hari kiamat, dan barang siapa menutupi Aib (perkara jelek) seorang muslim, Allah akan menutupi Aibnya pada hari kiamat.
Maka pentingnya kita taat kepada firman ALLAH dan Sabda Rasulullah adalah sebagai tolak ukur kebenaran, namun tanpa seolah olah menjadi Hakim yang sangat mudah berfatwa atau menetapkan hukum tanpa Kesepakatan yang berlaku di suatu wilayah Muslim di era saat ini yang mana kita tinggal di indonesia sudah ada majelis Ulama’ Indonesia yang sudah merumuskan tentang masalah masalah baru yang sudah di bahas secara rinci.

Tirakatnya Ulama’ Di Balik awal Munculnya Ideologi Pancasila

Nahdhotul Ulama’ adalah suatu organisasi Islam untuk melestarikan kebangkitan Ulama’ yang benar benar memliki kapasitas ilmu sehingga dengan bangkitnya Ulama’ maka ilmu bisa tersebar dan menjadikan kita sebagai orang awam (yang tidak sempat mendalami Ilmu Agama secara mandiri dari nol) mendapatkan literasi dari para orang alim yang sudah tumpus rumus terlebih dahulu dalam Dunia Pesantren, sehingga pada giliranya tetap menjaga kerukunan dan kedamaian antar sesama muslim maupun pemeluk Agama Lain dan menghindari fitnah yang timbul akibat Ke egoisan 1 atau 2 orang yang ingin merusak kerukunan yang selama ini telah terjalin dengan baik di atas dasar Pancasila.

yang Mana Pancasila itu sendiri adalah Lambang negara Kita dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda beda tapi satu jua). Yang juga hal tersebut di Sahkan Oleh para Ulama’ Isi Poin-poin di dalamnya di waktu Perumusan kemerdekaan dan tentu saja Isinya sangat berkaitan erat dengan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Sebelum menerima rumusan Pancasila, KH Hasyim Asy’ari melakukan tirakat atau menjalani laku spiritual dengan memohon kepada Allah SWT untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.

Tirakat tersebut di antaranya dengan menjalankan puasa tiga hari, mengkhatamkan Al Qur’an, sholat istikharah dan membaca surat Al Kahfi hingga puluhan kali.

Berikut ritual lengkap KH Hasyim Asy’ari saat menerima rumusan Pancasila.(3)

“Ketika Pancasila Datang Kepadaku… Aku meminta petunjuk Allah Dengan puasa 3 hari, mengkhatamkan Al-Qur’an dan membaca Al Fatihah sampai pada ayat ‘iyya kana budu waiya kanastain’ aku baca 350 kali. Setelah puasa 3 hari aku lanjutkan shalat istikhoroh 2 rakaat, pada rokaat pertama aku baca surat At Taubah 41 kali , rokaat kedua surat Al Kahfi 41 kali. Sebelum tidur aku membaca ayat terakhir surat Al Kahfi 11 kali. Maka Aku Ridho. Pancasila sebagai dasar perekat bangsa dan menjadi ideologi Negara Indonesia”.

Pancasila merupakan dasar negara dan falsafah bangsa Indonesia. Peringatan Hari Lahir Pancasila ini merupakan amanat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016.  Hal ini sebagai bentuk penghargaan perjuangan para pendiri bangsa dalam merumuskan Pancasila diharapkan masyarakat bersama-sama memeriahkan dan menyemarakkan Bulan Pancasila yaitu dimulai 1 Juni hingga 18 Agustus.

Sumber Literasi :

(1) Al-Qur’an
(2) https://www.dorar.net/hadith/sharh/660
(3) https://jatim.inews.id/berita/ulama-yang-membuat-pancasila-begini-laku-spiritual-kh-hasyim-asyari-menerima-ideologi-negara.
santri
Follow me on

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *